Thursday, January 3, 2008

“IKHLAS” (Balada Sandal Jepit :D)

Saya punya sebuah sandal yang saya beli lebih dari 2 tahun lalu. Sepasang sandal jepit warna biru donker dengan harga Rp40 ribuan, cukup mahal untuk ukuran kantong saya waktu itu. Sandal itu sangat nyaman buat saya, percaya atau tidak saya sangat “eman” (sayang) dengan sandal itu, mengingat dia telah menemani saya berjalan ke berbagai tempat dan tidak pernah mengeluh, tidak rusak, bahkan semakin nyaman dipakai. Saya merawat dengan baik sandal itu, mencuci dan menjemurnya dengan rutin. Kalo bisa sandal saya itu tidak dipinjam ama temen2 kos saya (hal yang wajar kita lakukan pada benda kesayangan). Tapi karena tinggal dikosan, agak susah untuk tidak meminjamkan sandal kesayangan, meskipun agak kesal ketika dikembalikan dalam keadaan yang kotor. Kasihan sekali sandal saya itu.

Belum sampai 1 tahun dia menjadi kesayangan saya, suatu sore sepulang dari kantor, saya tidak mendapati sandal saya. Kesel, pengen marah, bikin nyesek. Pagi, saya masih mendapati sandal saya di depan pintu kos. Salah saya sendiri tidak memasukkannya ke dalam. Saya menaruhnya di teras. Saya pikir aman saja, karena masih di dalam pagar biarpun tidak dikunci. Rupanya kecerobohan saya membuat sandal kesayangan lenyap. Hampir semua temen kos saya tanya barangkali mereka memakai sandal saya ke kantor dan lupa membawanya. Tak seorangpun tahu.

Tak ada yang bisa saya lakukan, kecuali ikhlas. Ya, hanya bisa berusaha ”ikhlas”. Ikhlas karena telah kehilangan sesuatu yang saya sayang. Begitulah saya menterjemahkan tentang makna ikhlas pada waktu itu. Bukankah ketika seseorang kehilangan hal yang berharga dalam hidupnya maka akan diberi nasehat untuk ”ikhlas”. Entah itu kehilangan waktu buat orang lain, uang, bahkan kehilangan yang disebabkan meninggalnya orang yang sangat dikasihi.

Kurang lebih satu tahun saya mulai melupakan sandal kesayangan yang hilang. Selama waktu itu saya telah membeli berbagai sandal, bahkan dengan harga lebih dari 2 kali lipat harga sandal kesayangan saya. Tapi entah kenapa ketika sandal baru itu pada akhirnya putus karena tertindih motor yang jatuh waktu saya kendarai, saya tidak semenyesal seperti saat saya kehilangan sandal kesayangan. Bahkan saya pun tidak menyesali kaki saya yang memar-memar. Aneh memang. Berlebihan??? Begitulah adanya yang saya rasakan. Selalu saya membandingkan rasa kesal, kehilangan, marah, yang saya alami saat ini dengan saat ketika saya kehilangan sandal. Mungkin sebenarnya saya belum ”ikhlas”.

Akhirnya saya harus mencari sandal lagi. Masih terbayang rasa nyaman dari sandal saya yang hilang. Biarpun bisa saja saya membeli merek dan ukuran yang sama dengan sandal yang hilang, tapi kenyamanannya tidaklah sama. Sekali lagi saya belum ”ikhlas” untuk kehilangan. Susah ternyata untuk ”ikhlas” ketika harus kembali mengingat pada ”kehilangan”.

Belajar dari kehilangan demi kehilangan yang selalu saya sandingkan dengan kata ”ikhlas”, akhirnya saya berusaha menerima setiap kehilangan yang terjadi. Semakin saya mempertahankan sesuatu yang sangat berarti untuk saya maka saya akan semakin takut untuk kehilangan sesuatu yang pasti akan sangat menyakitkan untuk saya. Tidak ada cara lain kecuali belajar , ”ikhlas”= ”kehilangan”???

Semalam, tiba-tiba penjaga kosan bertanya ,”mbak, ini bukannya sandal mbak yang ilang? Saya menemukannya di depan,”sambil bertanya dia memakai sandal itu sampai depan pintu kamar saya dan menyerahkannya pada saya. Saya mengamatinya, mencobanya, dan yakin sandal saya telah kembali!!! Dalam keadaan yang sangat baik, walaupun hampir setahun lebih dia hilang. Malam itu saya menyadari akan satu hal, tentang “ikhlas”. Saat dimana saya telah melupakan apa yang sangat saya sayang hilang dari hidup saya dan rela atasnya, Allah mengembalikannya.

Saya telah mendapat jauh lebih banyak kebaikan dari kejadian yang saya pikir adalah kehilangan/kemalangan buat saya. Betapa seringnya saya berpikir saya adalah yang terbaik untuk sesuatu bahkan untuk orang-orang yang selama ini saya sayang dan juga sebaliknya, saya berpikir mereka yang terbaik untuk saya. Kehilangan apa yang saya pikir terbaik untuk saya sering menyisakan rasa marah dan tidak rela. Saya lupa bahwa saya sebenarnya tidak pernah kehilangan apa-apa, hingga sepasang sandal kesayangan yang pernah hilang akhirnya kembali.

”Ikhlas bukanlah kehilangan”. Ikhlas adalah rela. Rela atas hal terbaik yang akan terjadi dalam hidup. Kapan, dimana dan bagaimana adalah rahasia-Nya. Saat manusia tidak lagi berdaya untuk mempertahankan apa yang dimiliki dengan segala upaya dan doa, tak ada jalan lain kecuali ”ikhlas”.

Sandal saya telah kembali J Dia akan tetap menjadi sandal kesayangan yang tak tergantikan. Tapi sekarang saya lebih ikhlas, rela ketika tiba saatnya Allah menggantikannya dengan yang lain. Dia Maha Tahu apa yang terbaik, sehingga saya pun harus berusaha untuk selalu berprasangka baik pada-Nya.

Siapapun yang saat ini tengah kehilangan, bukanlah maksud saya membandingkannya dengan sandal, benda yang hanya menjadi alas kaki kita. Saya hanya ingin membagi makna keikhlasan yang saya dapati dari kehilangan yang saya alami. Sedikitnya ilmu yang saya miliki membuat saya tak lepas dari kekurangan dan khilaf. Mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung.

No comments: