Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Wednesday, August 12, 2009

Aku di Dekat Matahari

Tanah Lot, 7 Agustus 2009


Sepanjang sore ini, aku hanya ingin disini
Menatap pecahan buih putih bersama suara berat yang mengantarnya ke bibir karang
Angin sungguh sempurna menemaniku yang sedang menunggu matahari kembali ke tempatnya bersemedi.


Dupa-dupa wangi sesekali tercium mengikuti arah angin
Riuh manusia tak sedikitpun membuatku beranjak dari kedamaian yang menyusup pelan
Semua begitu sempurna,
warna matahari, aroma laut bercampur dupa, semilir angin, bunyi dan pecahan ombak, karang yang kokoh.
Teramat begitu sempurna sebagai lukisan nyata yang bisa kunikmati, kuelus, kubawa masuk melewati raga dan berhenti dengan tenang di kedalaman hati.


Aku di dekat matahari,
tetap ingin di sini sampai malam tak menyisakan sinar keemasan berbalut garis-garis perak yang mulai tertutup mendung.
Aku ingin menyempurnakan rasa syukur di hadapan lukisan sempurna ini
Di sini aku tak lebih indah dari buih putih yang tak lelah mendatangi pantai
Tak lebih syahdu dari deburan ombak yang sempurna menyambangi telingaku
Tak lebih kokoh dari karang yang tetap menjulang meski dihantam ombak dan diterpa angin berjuta kali
Tak lebih besar dari bulir-bulir pasir di antara karang


Di dekat matahari,
Aku tak lagi merasa sepi,
Tak lagi merasa duka,
Tak lagi merasa berat,
Apa yang bisa membuatku sepi, duka dan berat
Jika aku masih bisa di sini,
Di dekat sebuah lukisan sempurna


Aku di dekat matahari.

Friday, February 20, 2009

MANUSIA BIASA

Jakarta, 5 Februari 2009

Apa yang bisa kukatakan pada mereka, ketika mereka tak percaya aku manusia.
Aku bukan malaikat tanpa nafsu dan amarah.
Lalu tiba masa aku menyakiti mereka dan sebaliknya, tanpa aku sadar.
Mereka begitu terluka dan kecewa,
walaupun mereka lupa aku pun pernah merasakan hal yang sama.

Aku tak peduli mereka merasa bersalah atau tidak,
tapi aku ingin teriakkan rasa sakit karena menyakiti mereka,
karena rasa salah yang menyesak.
Karena aku bukan malaikat yang tidak bisa merasakan sakit ini.

Tenang,
Apalagi yg bisa aku capai untuk sebuah ketenangan.
Aku bukan malaikat yg mencurahkan seluruh hidupnya bagi Sang Khalik
tanpa mempertanyakannya.
Aku manusia biasa yang menggerutu pada nasib dan mempertanyakan takdir.

Lihat
Segala kesempurnaan manusia tak diberikan pada mahluk lainnya.
Tapi aku merasa hina oleh diri yang tak tahu berterima kasih pada Khalik.
Bacaan2 suci yang kutinggalkan entah sejak kapan seperti suara yang
mengingatkanku akan bau anyir tubuhku yg ditinggalkan rohku suatu hari nanti.

Aku bersimpuh tanpa daya
Karena aku adalah manusia biasa.
Luruh dalam air mata tanpa bisa aku hentikan sambil tak berhenti memanggil-Nya
Tolong aku, wahai Penyangga Hidup seluruh mahluk di alam semesta.
Aku tidak bisa mensucikan bathinku sendiri,
Aku terperangkap oleh waktu yang sia-sia,
Aku ingin di dekat-Mu.

Aku telah meluruhkan air mata sepanjang hari itu.
Hanya Dia yang bisa menghapusnya.
Dia yang menciptakan manusia biasa ini.

Monday, January 19, 2009

Untuknya Aku Ada

Pangandaran, 17 Januari 2009


Sepertinya aku telah mengenal dia dari satu masa
Saat dendam pernah menorehkan bekas
Saat kaki tak ingin melangkah
Saat tubuh tergeletak tanpa daya
Saat diam adalah jawaban

Dia
Segaris dengan mentari senja yang bersiap kembali ke balik awan
Duduk tenang memandangku dari sudut matanya
Menjagaku dari jauh tanpa kata
Dia
Seperti mengikutiku mengantar mentari senja

Aku
Melihatnya dengan gamang
Mencarinya ditiap sisi hati yang mungkin pernah membawanya
Sepertinya dia tak asing bagiku
Sepertinya dia menjadi bagian jiwaku
Entah dulu, kini, atau barangkali nanti?

Aku
Ingin menanyakan padanya
Dirimukah orang yang akan menemaniku memandang mentari terbenam
di sisa hidupku nanti?
Dirimukah yang hadir dalam rajutan mimpi seolah sedang menjaga tidurku?

Dia
Memberikan senyum terindah yang ingin kusimpan, kumaknai, dan kuyakini sebagai milikku
Dia mencuri sedikit sinar mentari senja untuk diberikan padaku

Aku
Tersenyum seperti senyumnya senja itu
Senyum yang membayar penat oleh kegamangan memaknai dirinya

Aku
Begitu tenang menerima pantulan sinar senja dari sudut matanya
Seolah tak peduli bahwa mungkin bukan dia yang akan menemani sisa hidupku
Aku ingin tetap disini
Sampai mentari benar-benar tak menyisakan sinar
Sampai gelap membuat dia tak mampu memandangku lagi.

Wednesday, July 9, 2008

Buat Aku Mengerti

By : Puj n Shall
(Jakarta, 8 Juli 2008)


Aku masih di sini
berusaha untuk mengais sisa-sisa daya
yang sempat kumiliki bersamamu
Aku tidak pernah mengerti
bahwa ketulusan menyerahkan hati tanpa syarat
tidak cukup membuatmu menjadi milikku

Tanganku tak cukup kuat tuk dikepalkan
berontak melawan
Begitu pula air mataku
menetes bersedih
Meskipun aku tak pernah menyesali
adanya dirimu di hidupku

Buat aku mengerti
kenapa aku dan kamu tidak akan pernah lagi menjadi "kita"
Kamu yang membisu membuatku melepuh oleh kasih
yang pernah kamu terima dan jaga sepenuh hati

Aku bukan lagi orang yang sama
Ketika mereka mencampakkanku
tanpa memberiku kesempatan membuktikan
Akulah yang paling pantas untukmu

Buat aku mengerti
mengapa dirimu membiarkan mereka merenggut "kita"
meski kamu tahu
akulah yang kamu inginkan

Untukmu aku berusaha mengerti
segala hal yang tidak kumengerti tentangmu
dan aku tak pernah menyesali
hadirmu di hidupku



@ shall : hehehe, puisinya dah jadi tuh. smoga hari2-mu cerah ceria :D

Tuesday, April 1, 2008

SATU HARI YG TERSISA

Jakarta, 01 April 2008

Jika ada satu hari yang tersisa
Memberiku waktu bicara tentang apa saja
Maka itu adalah tentangmu

Jika aku diberi satu permohonan untuk dikabulkan
Maka itu tentang kita

Kamu tahu??
Ditiap sepiku aku menguntai kata
Agar kamu mengerti bahasa hati yg tidak sanggup aku ucapkan

Selalu dan selalu aku terlambat mengakui
Bahwa kamu adalah penyekat perih rasaku
Ragaku yang berdiri tegap adalah karena kau yg mengisi jiwanya
Begitupun ragaku yang lunglai adalah karena kau meninggalkan jiwanya.

Adakah satu hari yang tersisa itu?
Dimana aku tidak lagi kelu untuk berucap
Aku tidak lagi lemah untuk mengharap
Tidak lagi takut bercerita
Semua tentang kamu.

Beri aku satu hari
Untuk membuatmu mengerti
agar jangan pergi dariku.

Satu hari yang tersisa
Mungkinkah masih berarti?
Karena kamu tak lagi ingin tinggal disini

Selalu dan selalu aku meminta akan ada satu hari
Dimana aku punya keberanian
untuk bercerita semua tentang kamu.
Meski aku tahu,
Kamu tidak lagi ingin di sini.

Tuesday, February 12, 2008

NUSA DUA, MEI 2007 (untuk seorang teman yg memintaku membuat puisi untuknya :))

NUSA DUA, MEI 2007

Seorang perempuan berparas ayu
Memandang lepas hempasan ombak pantai Nusa Dua
Dia mendekat, untuk merasakan air laut meresap ke pori-pori tubuhnya
Mengalir masuk dalam aliran darahnya
Dan bercampur dengan perih yang dirasakannya

Mata perempuan itu seperti awan gelap yang menyelimuti Nusa Dua
Pekat, dingin, pelan bergerak tanpa tujuan
Dia berdiri di antara karang yang mengapit sudut pantai
Membiarkan helai legam rambutnya beterbangan tanpa arah
Dia seperti berbicara pada angin yang mendesau dengan kerasnya
Angin itu mewakili teriakan hatinya
Yang telah dia matikan hasrat dan harapannya

Perempuan berparas ayu
Merunduk dengan lemah dan pasrah
Menggenggam seonggok pasir yg dilemparkannya ke lautan
Pasir itu adalah serpihan dirinya
yang dibiarkannya diombang-ambing lautan
Untuk dilabuhkan di pulau seberang entah di mana
lalu ditemukan oleh seseorang

Dari seonggok pasir yang dia lemparkan disatukan menjadi istana pasir
Sangat kokoh, meski itu berasal dari pasir yang pernah tergerus ombak
Terombang-ambing lautan dan pernah juga dihempaskan angin

Perempuan berparas ayu dengan kelembutan hati yang terpancar
Berbalik arah meninggalkan pantai yang makin diamuk ombak
Tapi kini dia pergi dengan senyum
Seolah yakin, serpihan dirinya akan menjadi istana pasir sangat kokoh
Di suatu tempat di mana dia akan berlabuh nanti.

SENJA (terinspirasi dari jepretan kamera seorang teman, pemandangan senja kali cisadane :D)

SENJA

Senja,
Yang mengantarnya pulang
Meninggalkanku di tepi pengharapan akan kepastian hati untukku
Tidak menyisakan sedikitpun jawaban untuk kusimpan
Galau dalam sampan yg kukayuh demi menjemputnya di ujung harap
Aku memudar bersama senja yang diusir malam

Senja
Tetap tenang dan senyap
Meski bunyi riak gelombang yang tertembus dayung, menembus bathinku
Warna malam yang mulai datang, menggelapkan ruang kosong hatiku
Aku pun larut dalam senyap dan enggan membawa diriku ke tepian

Malam,
Aku harap jangan dulu datang
Demi cahaya senja yang akan mengantar bagian jiwaku kembali padaku

Aku
Tidak pernah letih untuk melabuhkan sampan dalam dekapan senja
Hingga dia datang padaku
Seperti senja yang tak pernah letih dan bosan untuk kembali datang
Meski hanya beberapa menit untuk kemudian dilenyapkan oleh malam

Di ujung senja,
aku bercerita,
yang terkasih tak pernah lagi datang untukku
aku mengerti kini,
melepasnya adalah janji yang pernah kuberi untuk bahagianya.