Tuesday, February 12, 2008

NUSA DUA, MEI 2007 (untuk seorang teman yg memintaku membuat puisi untuknya :))

NUSA DUA, MEI 2007

Seorang perempuan berparas ayu
Memandang lepas hempasan ombak pantai Nusa Dua
Dia mendekat, untuk merasakan air laut meresap ke pori-pori tubuhnya
Mengalir masuk dalam aliran darahnya
Dan bercampur dengan perih yang dirasakannya

Mata perempuan itu seperti awan gelap yang menyelimuti Nusa Dua
Pekat, dingin, pelan bergerak tanpa tujuan
Dia berdiri di antara karang yang mengapit sudut pantai
Membiarkan helai legam rambutnya beterbangan tanpa arah
Dia seperti berbicara pada angin yang mendesau dengan kerasnya
Angin itu mewakili teriakan hatinya
Yang telah dia matikan hasrat dan harapannya

Perempuan berparas ayu
Merunduk dengan lemah dan pasrah
Menggenggam seonggok pasir yg dilemparkannya ke lautan
Pasir itu adalah serpihan dirinya
yang dibiarkannya diombang-ambing lautan
Untuk dilabuhkan di pulau seberang entah di mana
lalu ditemukan oleh seseorang

Dari seonggok pasir yang dia lemparkan disatukan menjadi istana pasir
Sangat kokoh, meski itu berasal dari pasir yang pernah tergerus ombak
Terombang-ambing lautan dan pernah juga dihempaskan angin

Perempuan berparas ayu dengan kelembutan hati yang terpancar
Berbalik arah meninggalkan pantai yang makin diamuk ombak
Tapi kini dia pergi dengan senyum
Seolah yakin, serpihan dirinya akan menjadi istana pasir sangat kokoh
Di suatu tempat di mana dia akan berlabuh nanti.

SENJA (terinspirasi dari jepretan kamera seorang teman, pemandangan senja kali cisadane :D)

SENJA

Senja,
Yang mengantarnya pulang
Meninggalkanku di tepi pengharapan akan kepastian hati untukku
Tidak menyisakan sedikitpun jawaban untuk kusimpan
Galau dalam sampan yg kukayuh demi menjemputnya di ujung harap
Aku memudar bersama senja yang diusir malam

Senja
Tetap tenang dan senyap
Meski bunyi riak gelombang yang tertembus dayung, menembus bathinku
Warna malam yang mulai datang, menggelapkan ruang kosong hatiku
Aku pun larut dalam senyap dan enggan membawa diriku ke tepian

Malam,
Aku harap jangan dulu datang
Demi cahaya senja yang akan mengantar bagian jiwaku kembali padaku

Aku
Tidak pernah letih untuk melabuhkan sampan dalam dekapan senja
Hingga dia datang padaku
Seperti senja yang tak pernah letih dan bosan untuk kembali datang
Meski hanya beberapa menit untuk kemudian dilenyapkan oleh malam

Di ujung senja,
aku bercerita,
yang terkasih tak pernah lagi datang untukku
aku mengerti kini,
melepasnya adalah janji yang pernah kuberi untuk bahagianya.

Thursday, January 17, 2008

PLEASE SISTER (The Cardigans - Long Gone Before Daylight Album)

Luv the melody n lyric of "Please Sister". Showing perfectly the secret of love.

PLEASE SISTER

With a sampled heartbeat and a stolen soul
I sold my songs to have my fortune told
And it said
You should know that love will never die
But see how it kills you in the blink of an eye

I know love is a hot white light
It knocks you down and then leaves you dry
Oh how can it be sweet mama tell me why
Why all loves disciples have to wither and die

Please sister, help me come on do what you should
Please give me something I'm not doing so good
I'm gone, done wrong is there nothing you can say
Please sister help me I'm not feeling ok

Give me believe that my time will come
And a toll free helpline if I find someone
But she said
You gave away what you never really had
And now your purse is empty I can see why you're sad

Please sister, help me come on do what you should
Please give me something I'm not doing so good
I'm gone, done wrong is there nothing you can say
Please sister help me Can you make me feel ok

So if it's true, that love will never die
Then why do the lovers work so hard
To stay alive

Please sister, help me
Please give me something oh
Please sister, you know I do what I can
Oh sweet mama, please descent me a man
Cause I'm gone, gone
Is there nothing you can get


Please sister help me
I just need some love
To live

Just a little love to live

Friday, January 4, 2008

LONELY INSIDE (Lyric Draft)

It’s rainy outside n cold
Feeling of lonely among the crowd
Inside of me is freezing from warming hope
Deep, I wish everything is so simple
But without U inside my heart
I couldn’t help to stand on my own

I should realize I am alone
within the burden inside of me
Hoping I can just let it go and walk over the rainbow
I just need U around to hold me from falling down
U never know how life can get worse
Without any hope of being strong


Chorus
I didn’t ask U much
Why U just step out n leave me
Did I say how hard to let U go
I’m getting weak without U by my side
Why don’t U just stay in my heart
Tell me what I am supposed to do, to make U stay
Sorrow will disappear if I had U here


Having all these hard moments
Stepping the road of life on my own
Wishing U here to keep me believe
There is a light, wait for me to come
As U said, I should be brave
To win n keep that light inside of me

Thursday, January 3, 2008

“IKHLAS” (Balada Sandal Jepit :D)

Saya punya sebuah sandal yang saya beli lebih dari 2 tahun lalu. Sepasang sandal jepit warna biru donker dengan harga Rp40 ribuan, cukup mahal untuk ukuran kantong saya waktu itu. Sandal itu sangat nyaman buat saya, percaya atau tidak saya sangat “eman” (sayang) dengan sandal itu, mengingat dia telah menemani saya berjalan ke berbagai tempat dan tidak pernah mengeluh, tidak rusak, bahkan semakin nyaman dipakai. Saya merawat dengan baik sandal itu, mencuci dan menjemurnya dengan rutin. Kalo bisa sandal saya itu tidak dipinjam ama temen2 kos saya (hal yang wajar kita lakukan pada benda kesayangan). Tapi karena tinggal dikosan, agak susah untuk tidak meminjamkan sandal kesayangan, meskipun agak kesal ketika dikembalikan dalam keadaan yang kotor. Kasihan sekali sandal saya itu.

Belum sampai 1 tahun dia menjadi kesayangan saya, suatu sore sepulang dari kantor, saya tidak mendapati sandal saya. Kesel, pengen marah, bikin nyesek. Pagi, saya masih mendapati sandal saya di depan pintu kos. Salah saya sendiri tidak memasukkannya ke dalam. Saya menaruhnya di teras. Saya pikir aman saja, karena masih di dalam pagar biarpun tidak dikunci. Rupanya kecerobohan saya membuat sandal kesayangan lenyap. Hampir semua temen kos saya tanya barangkali mereka memakai sandal saya ke kantor dan lupa membawanya. Tak seorangpun tahu.

Tak ada yang bisa saya lakukan, kecuali ikhlas. Ya, hanya bisa berusaha ”ikhlas”. Ikhlas karena telah kehilangan sesuatu yang saya sayang. Begitulah saya menterjemahkan tentang makna ikhlas pada waktu itu. Bukankah ketika seseorang kehilangan hal yang berharga dalam hidupnya maka akan diberi nasehat untuk ”ikhlas”. Entah itu kehilangan waktu buat orang lain, uang, bahkan kehilangan yang disebabkan meninggalnya orang yang sangat dikasihi.

Kurang lebih satu tahun saya mulai melupakan sandal kesayangan yang hilang. Selama waktu itu saya telah membeli berbagai sandal, bahkan dengan harga lebih dari 2 kali lipat harga sandal kesayangan saya. Tapi entah kenapa ketika sandal baru itu pada akhirnya putus karena tertindih motor yang jatuh waktu saya kendarai, saya tidak semenyesal seperti saat saya kehilangan sandal kesayangan. Bahkan saya pun tidak menyesali kaki saya yang memar-memar. Aneh memang. Berlebihan??? Begitulah adanya yang saya rasakan. Selalu saya membandingkan rasa kesal, kehilangan, marah, yang saya alami saat ini dengan saat ketika saya kehilangan sandal. Mungkin sebenarnya saya belum ”ikhlas”.

Akhirnya saya harus mencari sandal lagi. Masih terbayang rasa nyaman dari sandal saya yang hilang. Biarpun bisa saja saya membeli merek dan ukuran yang sama dengan sandal yang hilang, tapi kenyamanannya tidaklah sama. Sekali lagi saya belum ”ikhlas” untuk kehilangan. Susah ternyata untuk ”ikhlas” ketika harus kembali mengingat pada ”kehilangan”.

Belajar dari kehilangan demi kehilangan yang selalu saya sandingkan dengan kata ”ikhlas”, akhirnya saya berusaha menerima setiap kehilangan yang terjadi. Semakin saya mempertahankan sesuatu yang sangat berarti untuk saya maka saya akan semakin takut untuk kehilangan sesuatu yang pasti akan sangat menyakitkan untuk saya. Tidak ada cara lain kecuali belajar , ”ikhlas”= ”kehilangan”???

Semalam, tiba-tiba penjaga kosan bertanya ,”mbak, ini bukannya sandal mbak yang ilang? Saya menemukannya di depan,”sambil bertanya dia memakai sandal itu sampai depan pintu kamar saya dan menyerahkannya pada saya. Saya mengamatinya, mencobanya, dan yakin sandal saya telah kembali!!! Dalam keadaan yang sangat baik, walaupun hampir setahun lebih dia hilang. Malam itu saya menyadari akan satu hal, tentang “ikhlas”. Saat dimana saya telah melupakan apa yang sangat saya sayang hilang dari hidup saya dan rela atasnya, Allah mengembalikannya.

Saya telah mendapat jauh lebih banyak kebaikan dari kejadian yang saya pikir adalah kehilangan/kemalangan buat saya. Betapa seringnya saya berpikir saya adalah yang terbaik untuk sesuatu bahkan untuk orang-orang yang selama ini saya sayang dan juga sebaliknya, saya berpikir mereka yang terbaik untuk saya. Kehilangan apa yang saya pikir terbaik untuk saya sering menyisakan rasa marah dan tidak rela. Saya lupa bahwa saya sebenarnya tidak pernah kehilangan apa-apa, hingga sepasang sandal kesayangan yang pernah hilang akhirnya kembali.

”Ikhlas bukanlah kehilangan”. Ikhlas adalah rela. Rela atas hal terbaik yang akan terjadi dalam hidup. Kapan, dimana dan bagaimana adalah rahasia-Nya. Saat manusia tidak lagi berdaya untuk mempertahankan apa yang dimiliki dengan segala upaya dan doa, tak ada jalan lain kecuali ”ikhlas”.

Sandal saya telah kembali J Dia akan tetap menjadi sandal kesayangan yang tak tergantikan. Tapi sekarang saya lebih ikhlas, rela ketika tiba saatnya Allah menggantikannya dengan yang lain. Dia Maha Tahu apa yang terbaik, sehingga saya pun harus berusaha untuk selalu berprasangka baik pada-Nya.

Siapapun yang saat ini tengah kehilangan, bukanlah maksud saya membandingkannya dengan sandal, benda yang hanya menjadi alas kaki kita. Saya hanya ingin membagi makna keikhlasan yang saya dapati dari kehilangan yang saya alami. Sedikitnya ilmu yang saya miliki membuat saya tak lepas dari kekurangan dan khilaf. Mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung.

Thursday, July 26, 2007

SISI-SISI BANDUNG

Bandung, menjadi kota tujuan wisata yang tidak pernah bosan untuk dikunjungi dan dijelajahi. Pertama kali mengunjungi Bandung di awal 90-an, dalam sebuah karya wisata SMP, saya jatuh cinta pada Bandung. Betapa senangnya saya, merasakan hawa sejuk bandung terlebih ketika mengunjungi Tangkuban Perahu; melihat baju-baju dan sepatu yang dijual (hanya melihat saja, karena saya yakin tidak mampu membelinya dengan uang saku seadanya yang saya bawa); mengunjungi museum geologi; dan menyusuri jalan-jalan mungil Bandung dengan keramahan penduduk sekitar. Begitu berkesannya Bandung sehingga saya bertekat menjadikan Bandung sebagai tempat menuntut ilmu selepas SMA. Semakin bulat tekat saya, ketika di akhir masa SMA saya kembali mengikuti karya wisata ke Bandung. Pada akhirnya, saya memang tidak melanjutkan kuliah di Bandung, meskipun demikian, Bandung tetap menjadi kota di mana saya ingin menetap. Tidak pernah bosan saya mengunjungi Bandung, karena selalu ada hal baru yang menarik untuk dilakukan. Dulu, ketika saya hanya mampu membeli sebuah poster band favorit saya, “Bon Jovi” dan beberapa bungkus dodol sebagai oleh-oleh dengan uang sepuluh ribu Rupiah yang diselipkan oleh Ibu saya ketika berangkat karya wisata, hingga sekarang ketika saya bisa membelanjakan ratusan ribu dalam hitungan menit untuk baju-baju yang belum tentu dipakai, Bandung menyimpan berbagai cerita menarik di sudut-sudut kotanya.

Wajah Bandung di pertengahan 2000-an telah banyak berubah. Terik matahari telah mengalahkan hawa sejuk Bandung yang pernah membuat saya jatuh cinta. Seiring dengan Bandung yang menjadi tujuan wisata belanja, pertumbuhan mal-mal dan pusat perbelanjaan serta hiburan seperti tidak terkendali. Jalanan yang sempit menjadi semakin sempit oleh kendaraan yang seperti berlomba memasuki tempat-tempat belanja di sepanjang jalan kota Bandung. Mobil-mobil bagus yang parkir tidak teratur di kanan kiri jalan makin menambah sesaknya kota. Banyak orang membawa belanjaan pakaian yang mungkin menurut mereka “sangat murah” dibanding jumlah uang yang sanggup mereka belanjakan. Mungkin itu sebabnya, banyak yang tangannya terlihat tidak ada lagi tempat untuk menggantungkan tas belanjaan. Sejenak, saya keluar dari keriuhan itu, tepatnya menahan diri untuk tidak membeli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.

Pemandangan sangat kontras tertangkap oleh mata. Saya tidak terlalu ingat kapan pertama kali melihat bocah-bocah usia SD atau awal SMP memikul cobek di sekitar kawasan perbelanjaan, selama beberapa kali mengunjungi Bandung. Mereka tidak menawarkan dagangannya. Mereka hanya menunggu dengan harapan ada yang menawar atau bahkan membeli dagangannya. Mata-mata polos yang dengan pasrah memandang orang-orang yang sedang sibuk membawa belanjaan atau sekedar makan di pinggir jalan tanpa rasa iri meskipun mungkin mereka ingin melakukan hal yang sama.

Bandung kini, disetiap sudut keramaian penuh dengan tubuh-tubuh kurus dan mungil memikul cobek-cobek dari batu untuk dijajakan. Belum lagi bocah-bocah lesu yang duduk di teras toko menawarkan koran maupun mainan. Mereka bukan anak-anak jalanan dengan sorot mata liar seperti yang sering saya temui di jalanan kota-kota besar. Mereka anak-anak yang menjawab dengan sopan, berbicara seperlunya ketika ditanya, tegar dan tidak pernah meminta belas kasihan. Mereka terlihat masih malu-malu menawarkan jualannya tapi sama sekali tidak malu dengan apa yang sedang mereka jalani. Saya tidak tahu apakah mereka tetap berjualan di hari sekolah, karena beberapa dari mereka masih sekolah. Mereka berombongan berangkat pagi dari kota-kota sekitar Bandung dengan kereta api dan pulang ketika hari senja dengan membayar seadanya pada sopir mobil bak terbuka. Saya tidak mendengar mereka mengeluh. Dengan kesadaran dan kerelaan mereka fasih menceritakan kepada siapa mereka memberikan uang hasil jualan hari ini. Orang tua mereka sedang menunggu hasil keihklasan anak-anak yang mungkin belum akil baliq, mengemban tanggung jawab kelangsungan ekonomi keluarga. Tanpa keluhan sedikitpun. Mereka bercerita dengan senyum dan sambil bercanda dengan sebayanya.

Bandung tidak hanya tumbuh pesat sebagai tempat wisata belanja, tapi juga perbukitan yang disulap menjadi tempat-tempat makan luar ruangan yang berhawa sejuk dengan pemandangan alam nan hijau atau taburan bintang ketika langit malam terlihat cerah. “Kampung Daun”, salah satu tempat makan yang membuat saya penasaran. Saya sering melihatnya di salah satu televisi swasta sebagai lokasi dari sebuah acara yang ditayangkan menjelang adzan maghib. Belum lagi cerita dari teman-teman yang pernah mengunjungi “Kampung Daun”. Jadilah rasa penasaran yang harus dituntaskan dengan mengunjunginya. Di suatu sore menjelang senja, akhirnya sampai juga saya di sekitar kawasan “Kampung Daun” bersama teman-teman saya. Begitu inginnya merasakan hawa sejuk, saya membuka jendela. Benar-benar segar udaranya. Sesampai di lokasi, kami mulai foto di sana-sini. Kami sengaja mencari tempat yang agak tinggi hingga kesejukan dan kedamaian “Kampung Daun” makin terasa. Sambil menunggu makanan yang kami pesan datang, kami memutuskan untuk bergantian sholat maghrib di Musholla yang ada di pelataran bawah. Saya menuruni jalan setapak yang diterangi obor-obor di kanan kiri jalan dan mendengarkan suara gemericik air di bawah jembatan yang sengaja dibuat untuk menambah kesan alami. Malam beranjak indah di “Kampung Daun”.

Sebuah Musholla kecil yang cukup bersih terletak di samping kanan dari arah tempat makan. Ada beberapa orang yang tengah sholat di barisan perempuan bersama saya. Di akhir sholat, saya mendengar perbincangan anak kecil yang tiba-tiba menghilangkan keinginan saya untuk segera keluar dari Musholla dan menikmati secangkir espresso serta makanan lain yang sudah saya pesan. Dengan logat sunda yang kental, sang kakak mengajak adiknya untuk segera melaksanakan sholat sunnah (tidak wajib dilaksanakan) selepas maghrib dan berdoa agar jualan kali ini laku banyak. Saya baru tersadar ada 2 bocah penjual coklat, sedang berdoa dengan khusyuknya di samping saya, sementara saya berpikir untuk segera meninggalkan Musholla begitu sholat wajib telah saya selesaikan karena di otak saya hanya terisi oleh secangkir espresso dan sepiring ceker yang menunggu saya di atas. Sedikit perbincangan terjadi antara saya dan mereka. Sang adik ternyata menginginkan coklat yang di jual kakaknya. Tapi tiga ribu rupiah terlalu mahal untuknya, sementara keuntungan hari itu mungkin setara dengan 2 coklat. Dua kakak beradik itu dengan sopan menawarkan dagangan. Dengan sopan pula menjawab pertanyaan bagaimana mereka bisa di sini. Setiap hari, selesai mengerjakan tugas sekolah, sang ibu mengantar untuk berjualan di “Kampung Daun” dan di jemput pada jam sembilan malam. Saya tidak bisa membayangkan selelah apa sang adik yang masih TK itu harus menunggu jam sembilan malam untuk melepaskan lelahnya seharian dan bagaimana kaki-kaki mungilnya bisa menahan pegal menaiki dan menuruni jalan setapak, sementara saya yang baru sekali saja sudah sangat kelelahan. Di “Kampung Daun” saya melihat belasan bocah lainnya melakukan hal yang sama.

Saya kembali menuju tempat di mana teman-teman telah menunggu dengan menu lengkap yang telah kami pesan. Sebuah saung yang hangat dengan bantal duduk yang besar, meja penuh makanan dan minuman membuat saya terlupa dengan bocah-bocah penjual coklat dan mawar yang tidak bosan menawarkan dengan suara lirih pada mereka yang tengah melintas. Saya kembali sibuk dengan teman-teman dan makanan yang sedari tadi memenuhi otak saya. Benar-benar lupa dengan seorang bocah yang menginginkan coklat seharga tiga ribu rupiah yang baginya sangat mahal. Itu sebabnya saya mengeluhkan makanan yang tidak enak karena lidah yang tidak terbiasa dengan racikan bumbunya, sehingga tidak menghabiskannya. Padahal jika saya menghabiskan makanan itu tidak akan membuat saya kekenyangan apalagi mati keracunan. Saya membiarkan makanan mahal itu tergeletak sia-sia.

Bandung, denyut nadinya tidak pernah berhenti menawarkan keceriaan di setiap sudut kotanya. Paris Van Java, menjadi lokasi kesekian yang membuat saya penasaran. Itu sebabnya saya dan teman-teman rela bermacet-macet puluhan meter hanya untuk masuk ke halamannya, belum lagi puluhan menit yang kami habiskan untuk mencari tempat parkir. Paris Van Java, sebuah pusat perbelanjaan, hiburan, kafe dan restoran dalam maupun luar ruangan yang sangat luas menurut saya jika dibandingkan sempitnya jalan-jalan utama Bandung. Sampai lewat dini hari saya menuntaskan keinginan untuk mengunjungi Paris Van Java bersama teman-teman saya, ketika kemudian beranjak menyusuri jalanan Bandung untuk mencari sudut kota yang lain. Bandung punya beberapa tempat makan yang masih buka lewat dini hari di sepanjang Dago. Saya tidak sanggup lagi mengikuti denyut nadi Bandung sehingga saya tertidur sebelum sampai ke tempat tujuan berikutnya. Segelas teh tawar hangat sedikit membantu untuk kembali melihat keramaian Bandung lewat dini hari. Seperti tak tersisa jejak-jejak kaki kecil yang menjajakan dagangannya di bawah terik matahari. Seperti tak bersisa juga rasa iba pada mereka karena saya dengan mudah kembali terlelap di atas jok mobil yang empuk dengan alunan suara Vina Panduwinata melantunkan lagu kumpul bocah, “Kaki kecil berlari kesana- kemari sambil tertawa riang …”.

MENJADI YANG DIINGINKAN DAN DIBUTUHKAN

Seorang teman pernah menanyakan padaku tentang kebersamaanku dengan seseorang. Dia bukan yang pertama menanyakan hal itu. Entah berapa puluh kali atau bahkan ratusan kali aku harus menjawab pertanyaan yang sama. Umumnya, aku akan menjawabnya dengan bercanda. Tapi pada orang-orang tertentu aku akan menjawab serius, meskipun bukan jawaban yang paling jujur. Bukan sesuatu yang penting untuk menceritakan seperti apa jawaban dengan tujuan bercanda, karena jawabannya akan sangat tergantung dengan suasana hatiku saat itu. Aku tidak mampu mengingat semua jawabanku yang asal itu. Dalam kategori serius, maka jawaban yang keluar adalah, “Dia sedang sangat sibuk”.

Seseorang teman lainnya pernah menanyakan apakah aku merindukan kebersamaan itu. Dalam segala situasi, dimanapun, kapanpun, bahkan berapa kalipun aku diberi pertanyaan yang sama oleh orang yang berbeda aku akan menjawab “Iya. Tapi tidak ingin kembali ke masa itu”. Pertanyaan selanjutnya, “Kenapa?”, sejauh ini belum bisa kujawab dengan baik, tapi barangkali saat ini adalah saat untuk menjawab “Kenapa”.

Menjalani kebersamaan dengan seseorang yang hampir selalu bisa menemani dan menjadi tempat keluh kesah adalah rejeki. Bahkan bisa jadi adalah anugerah. Sebagian orang tidak akan pernah rela melepaskan masa itu dan sebisa mungkin menjaga kebersamaan yang ada agar terus bisa dijalani, setidaknya sampai dia menemukan seseorang yang lain sebagai pengganti. Sayangnya, tidak berlaku untukku. Aku memilih untuk pergi dan menjauh, dengan sangat rela melepasnya. Kenapa???

Aku merasa tidak diinginkan dan dibutuhkan oleh seseorang itu. Melalui perenungan panjang di awal tahun baru, tentang makna diriku bagi orang lain, apakah keberadaanku bermanfaat atau tidak, apakah orang-orang disekitarku sungguh menginginkan kehadiranku atau tidak, apakah aku dibutuhkan, memenuhi benakku. Ternyata, selama beberapa waktu aku menjalani kebersamaanku dengan seseorang aku baru menyadari bahwa dia tidak pernah “memintaku” seperti aku “memintanya”. Begitu seringnya aku meminta padanya, dan sedikit sekali yang bisa kuberi, itupun seperti memaksanya untuk menerima “pemberianku”. Aku merasa dia tidak menginginkan apapun dariku, tidak juga sebagai teman. Aku yang tidak pernah bisa melihatnya sedih dan menyendiri, sungguh mengerti beban yang tanpa sadar dia ceritakan bukan kepadaku meski aku berada di dekatnya saat itu. Tapi, tak ada yang bisa kulakukan. Dia tidak meminta pendapatku, sementara aku tidak ingin mencampuri masalah pribadi seseorang yang bahkan tidak mau menceritakannya apalagi meminta bantuan memecahkan masalahnya. Aku merasa dia tidak membutuhkanku.

Menjadi orang yang bermanfaat buat orang lain, menjadi yang diinginkan dan dibutuhkan, akan membuat seseorang merasa berharga. Setidaknya, begitulah yang kurasakan. Aku akan merasa lebih berharga berada di dekat seseorang yang memang benar-benar membutuhkan kehadiranku, daripada aku berada di dekat orang yang seolah tidak peduli aku ada atau tidak. Aku ikhlas membagi waktu untuk orang yang secara pribadi aku tidak begitu suka sifatnya, karena dia membutuhkanku. Butuh untuk dimengerti, didengarkan ceritanya dan diberi solusi untuk masalah yang dihadapinya. Aku merasa dipercaya, membuatku merasa berharga.

Kebersamaanku dengan seseorang itu sudah pasti adalah kisah indah, tapi bukan sesuatu yang ingin kuteruskan apalagi aku ulang. Berada di sisinya tidak membuatku merasa berarti. Berada di dekatnya tidak membuatku merasa berharga. Seseorang itu seperti tidak menginginkan aku berada di dekatnya, karena dia tidak pernah memintanya. Aku ada atau tidak saat dia sedih atau bahagia tidak ada beda buatnya. Dia seperti tidak pernah membutuhkanku. Karena dia tidak pernah ingin membagi apa yang dia rasa, apa yang dia alami seperti aku ingin membagi apa yang aku rasa dan alami. Aku merasa ada atau tidak ada diriku di dekatnya, tidak akan dia pedulikan.

Sebuah hal yang akan sangat kusyukuri jika aku memberi manfaat buat sekitarku. Dan sebuah hal yang sangat kuhindari menyia-nyiakan waktu dalam bentuk apapun. Karena aku tidak mungkin mengembalikan waktu yang sudah lewat, maka semampuku mengisi waktu yang kumiliki sekarang dan esok dengan segala sesuatu yang semoga bermanfaat untukku dan sekitarku.